Artikel
Serba-serbi Tanaman Trembesi
Minggu, 7 Januari 2018 00:00 WIB


Trembesi merupakan salah satu tanaman pelindung berbentuk payung dengan kanopi lebih besar dari tingginya.

 

Pohon yang dapat tumbuh hingga 25 meter ini memiliki beberapa nama daerah, seperti Ki Hujan (Sunda),  Kayu Colok dan Munggur (Jawa Tengah), Kayu Ambon (Melayu). Pohon trembesi dijuluki sebagai rain tree karena pohon ini sering meneteskan air dari tajuknya yang disebabkan kemampuannya menyerap air tanah lebih banyak.

 

Sedangkan pada musim hujan, pohon pemilik nama latin Samanea Saman (Rain Tree) ini bermanfaat sebagai pencegah erosi. Pasalnya, trembesi akan memperlambat laju air hujan yang jatuh ke tanah.

 

Trembesi juga sering digunakan sebagai tanaman pelindung atau peneduh sebab mampu menyerap karbon dan polutan lebih tinggi. Trembesi dapat menyerap CO2 sebesar 28.5 ton/pohon/ tahun dibandingkan dengan pohon akasia yang mampu menyerap 5,3 ton/tahun dan kenanga 0,5 ton/ tahun.

 

Selain itu, trembesi memiliki banyak manfaat kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian Hartwell (1967-1971) akar trembesi dapat digunakan sebagai tambahan obat pencegah kanker dengan menambahkannya saat mandi air hangat.

 

Ekstrak daun trembesi menghambat pertumbuhan Mikrobakterium tuberculosis (Perry 1980) penyebab sakit perut. Selain itu, trembesi dapat digunakan sebagai obat  flu, sakit kepala, dan penyakit usus (Duke dan Wain, 1981).

 

Trembesi termasuk dalam tanaman cepat tumbuh (fast growing) dan sangat mudah disebarkan. Pertumbuhan trembesi tiap tahun mencapai 0.75-1.5 meter dan pada usia 10 tahun, tinggi trembesi bisa mencapai 15-25 meter.

 

Bentuk batang trembesi tidak beraturan dengan dengan daun majemuk yang panjangnya sekitar 7-15 cm. Pohon ini menghasilkan bunga berwarna putih dengan bercak merah muda pada bagian bulu atasnya.

 

Panjang bunga  trembesi mencapai 10 cm dari pangkal hingga ujung hulu bunga. Selain itu, bunga trembesi menghasilkan nektar untuk menarik serangga guna membantu proses penyerbukan.

 

Buah trembesi berwarna cokelat kehitaman ketika sudah masak. Tanaman ini berkembang biak dengan menghasilkan biji yang terdapat pada daging buah.

 

Perkembangbiakan trembesi dapat dilakukan berbagai cara, seperti pembibitan, pemotongan dahan, ranting dan pencangkokan batang. Untuk skala besar dapat dilakukan dengan cara perkecambahan biji dan pembibitan biji.

 

Biasanya, menanam biji trembesi dilakukan pada musim hujan. Tumbuhan ini memiliki sistem perakaran yang bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium guna mengikat nitrogen dari udara.

 

Kandungan 78 persen Nitrogen di udara membuat trembesi mampu bertahan hidup di lahan-lahan marjinal hingga lahan-lahan kritis, seperti lahan bekas tambang. Bahkan, trembesi dapat bertahan pada tanah dengan tingkat kesamaan tinggi dan kering.