Festival Dandangan Kudus 2026 kembali digelar sebagai bagian dari tradisi budaya yang telah mengakar sejak era Sunan Kudus dalam menyambut bulan suci Ramadan. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, Dandangan juga terus berkembang sebagai penggerak ekonomi lokal yang melibatkan pelaku UMKM dan menarik puluhan ribu pengunjung setiap harinya.
Antusiasme masyarakat terhadap Festival Dandangan terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, jumlah kunjungan tercatat mencapai sekitar 38.000 orang per hari, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 16.000 pengunjung per hari. Tingginya mobilitas pengunjung ini turut membawa tantangan tersendiri, terutama terkait potensi peningkatan volume sampah dari aktivitas konsumsi selama acara berlangsung.
Apabila tidak dikelola secara optimal, lonjakan timbulan sampah berisiko menimbulkan dampak lingkungan dan menurunkan kenyamanan pengunjung. Kondisi ini juga berpotensi menambah kontribusi timbulan sampah nasional dari Kabupaten Kudus, yang pada 2024 tercatat mencapai sekitar 0,45 persen. Situasi tersebut menegaskan pentingnya penerapan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan, khususnya pada kegiatan berskala besar seperti Festival Dandangan.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan dinas terkait, pihak swasta, serta komunitas lokal guna memastikan penyelenggaraan Dandangan 2026 berlangsung tertib, aman, dan ramah lingkungan.
Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghadirkan festival yang tidak hanya meriah secara budaya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menurutnya, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Djarum Foundation, menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan ruang publik.
“Dandangan tidak hanya menjadi ruang perayaan tradisi, tetapi berperan penting dalam menggerakkan dan memperkuat perekonomian daerah. Festival ini turut menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk memeriahkan dan menyukseskan acara ini, mari kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dengan memilah sampah, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, serta menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi semua. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk Djarum Foundation atas dukungannya dalam menyediakan sarana pengelolaan sampah demi menjaga kebersihan kawasan Dandangan,” ucap Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton.
Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menjadi salah satu pihak yang terlibat aktif. Dukungan ini diwujudkan melalui penyediaan 60 unit tempat sampah yang dibagi menjadi 3 kategori, yaitu organik, anorganik, dan residu yang ditempatkan di titik-titik strategis di area penyelenggaraan Dandangan.
Director – Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara mengatakan melalui Festival Dandangan 2026, Bakti Lingkungan Djarum Foundation ingin menghadirkan semangat sederhana namun bermakna, yaitu pelestarian tradisi dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
“Ketika lingkungan terjaga kebersihannya, UMKM bisa beraktivitas dengan lebih nyaman, dan pengunjung pun betah menikmati suasana,” ujar Mutiara.
Bakti Lingkungan Djarum Foundation berdiri sejak 2022 menginisiasi gerakan Kudus ASIK (Kudus Apik Resik) yang sampai saat ini telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 490 mitra yang terdiri dari rumah makan, tempat pelayanan umum, perusahaan, hotel, pasar, dan masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Kudus yang telah berkomitmen untuk memilah sampah organiknya.
Selanjutnya, sampah organik tersebut diangkut dan diolah menjadi pupuk organik di fasilitas Pusat Pengolahan Organik (PPO) berkapasitas 50 ton per hari.
Sejalan dengan hal tersebut, BLDF juga memanfaatkan kanal berbasis media sosial untuk melebarkan pesan edukasi pemilahan sampah yang menyasar masyarakat Kabupaten Kudus lewat akun Instagram dan Facebook @kudus.asik. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah menuju zero waste, zero emission (ZWZE) 2040 yang menjadi target lanjutan dari Pemerintah Kabupaten Kudus.
“Selain menyediakan tempat sampah, Djarum Foundation juga melibatkan 20 mahasiswa dari UIN dan UMK yang tergabung dalam gerakan Kudus ASIK untuk mengedukasi para pengunjung agar memilah sampahnya dan menjaga kebersihan area acara,” tutur Mutiara.
Lebih lanjut, Mutiara mengungkapkan kelompok mahasiswa ini berperan sebagai duta kebersihan yang menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran pengunjung, khususnya dalam memberikan pemahaman mengenai pemilahan dan pembuangan sampah sesuai dengan kategorinya.
Melalui sinergi lintas sektor ini, Djarum Foundation dan Pemerintah Kabupaten Kudus berharap Festival Dandangan tidak hanya menjadi perayaan tradisi yang membanggakan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan.


