Penanaman trembesi yang terencana dapat mengurangi jejak karbon hingga 26 persen.

 

 

Pada 2010, Djarum Trees For Life memprakarsai gerakan penghijauan di Pulau Jawa melalui program penanaman trembesi di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah. Jalur Pantai Utara merupakan salah satu jalur utama yang menjadi nadi bagi transportasi darat. Puluhan ribu kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua, mobil, hingga truk muatan, diperkirakan melintasi jalur tersebut setiap hari.

 

Tingginya arus kendaraan di wilayah tersebut berdampak pada kualitas udara. Oleh karena itulah, Djarum Trees For Life mengawali langkah penanaman trembesi guna menekan polusi di wilayah ini.

 


 

Wujud nyata dari komitmen Djarum Trees For Life dalam menghijaukan lingkungan terlihat dari terus bertambahnya jumlah penanaman trembesi setiap tahun. Hingga 2017, setidaknya dari beberapa titik wilayah tanam yang tersebar di Pulau Jawa, Lombok, Madura, dan Sumatera Utara, program penanaman trembesi Djarum Trees For Life berpotensi menyerap lebih dari 2,6 juta ton karbon per tahun.

 

Jalur Pantai Utara Jawa Tengah Jadi Lokasi Awal 

Sebagai permulaan, ditanam sebanyak 4.114 pohon trembesi di sepanjang 58 km jalur Semarang-Kudus. Dengan lebih dari 4 ribu pohon trembesi di sepanjang jalur tersebut, diperkirakan langkah ini dapat menyerap karbon hingga 117.249 ton per tahun.

 

 

Jalur sepanjang 2.150 km telah ditanami trembesi selama program ini berjalan. Tentu jumlah tersebut akan bertambah dari waktu ke waktu sebagai dampak dari perluasan wilayah tanam trembesi yang dilakukan Djarum Trees For Life.

 

Serba-serbi Pohon Trembesi

Trembesi merupakan tanaman yang berasal dari negara tropis di Amerika, seperti Meksiko, Peru, dan Brazil. Diperkirakan, tanaman ini masuk ke Indonesia antara tahun 1890-1939. Trembesi juga dikenal dengan nama Rain Tree dan banyak tersebar di negara tropis yang memiliki curah hujan antara 600-3.000 mm/tahun, sedangkan di Jawa Barat, Trembesi dikenal dengan nama Ki Hujan. Pelabelan Ki Hujan muncul tersebab tajuknya sering meneteskan air karena kemampuannya menyedot air tanah yang kuat.

 

 

Pohon yang termasuk dalam kategori tanaman pelindung ini tergolong tanaman “bandel”. Trembesi dapat bertahan hidup di negara yang memiliki musim kering hingga 4 bulan dengan kisaran suhu 20 hingga 38 derajat Celcius.

 

Pertumbuhan pohon trembesi dari waktu ke waktu juga terbilang signifikan dibandingkan dengan pohon pelindung sejenis. Dalam satu tahun, trembesi dapat tumbuh 0,75 hingga 1,5 meter. Dengan pertumbuhan yang sedemikian cepat, tak heran jika trembesi dewasa yang  berumur  10 tahun bisa mencapai ketinggian 15 - 20 meter dengan bentangan tajuk hingga 25 - 30 meter.


 

Polusi dan Trembesi

Dengan kemampuan daya serap karbon yang dimilikinya, satu pohon trembesi diperkirakan mampu menyerap gas karbon yang dihasilkan oleh 15 orang. Artinya, 94.765 pohon trembesi yang telah ditanam Djarum Trees For Life dalam kurun 2010-2017 berpotensi menyerap karbon hingga 2.700.803 ton per tahun. Penanaman trembesi yang terencana diperkirakan dapat mengurangi jejak karbon hingga 26 persen pada masa yang akan datang.

 

Trembesi memiliki karakter daun yang tebal. Daun inilah yang memiliki kemampuan menyerap karbon dengan baik. Tak hanya baik dalam menyerap karbon, melalui mulut daunnya trembesi juga merupakan penyuplai oksigen yang membuat lingkungan sekitar menjadi sejuk dan teduh. Dengan bentang tajuk daun lebar yang dimilikinya, trembesi membuat nyaman mereka yang berteduh di bawahnya.

 


Selain memiliki kemampuan menyerap karbon yang baik, daun trembesi juga sensitif terhadap cahaya dan dapat menutup bersamaan ketika cuaca mendung. Karakter daun trembesi yang seperti ini kemudian membuat air hujan dapat turun langsung ke tanah secara perlahan. Dalam tahap inilah pohon trembesi dapat berperan mencegah timbulnya erosi di lingkungan sekitar tempatnya tumbuh.

 

Komitmen Merawat 3 Tahun

Namun demikian, meski trembesi termasuk tanaman yang tahan banting, pada tahap awal penanaman trembesi tetap diperlukan perawatan dan perhatian khusus. Pasalnya, banyak kendala pascatanam yang dapat membuat bibit trembesi tidak tumbuh secara sempurna atau bahkan mati sebelum sempat tumbuh setelah ditanam.

 

 


Oleh karena itu, tidak sekadar menanam, Djarum Trees For Life juga melakukan perawatan secara berkala di setiap jalur penanaman trembesi. Penanaman kembali pun kerap dilakukan untuk menggantikan bibit rusak pascatanam. Oleh karena itu, Djarum Trees For Life berkomitmen melakukan perawatan 3 tahun untuk memastikan trembesi tumbuh sempurna.

 


Djarum Trees For Life berharap program penanaman trembesi akan menjalar ke daerah dan titik lain di Nusantara, serta dapat secara nyata berkontribusi menekan polusi dan pemanasan global sebagai dampak jangka panjang.